Pages

Jumat, 06 April 2012

my twins part 2

sampai saat ini, aku masih merasa bahwa shela masih selalu bersama ku. mungkin karena didalam raga ini ada Shela yang selalu menemani ku. tapi jikalau memang boleh jujur aku sangat merindukan dia, hal yang aku lakukan jikalau aku merindukannya adalah dengan pergi ke makan Shela atau aku mendengarkan kotak musik yang tadinya akan aku berikan kepada shela, yah mungkin menurut orang hal itu bisa membuat kita tambah sedih, tapi menurutku hal ini  membuatku merasa lebih tenang.

aku juga bercerita kepada Shela tentang pria yang sedang aku suka. yah walaupun sekarang aku masih sebagai Scret Adminer dia, tapi orang yang pertama kali mengetahui bahwa aku suka dengan denny. iya Denny adalah pria yang aku suka. dia adalah senior ku di sekolah. aku bertemu dengannya sewaktu aku  mengikuti tes paduan suara di sekolah. dan dia datang terlambat dengan gitar yang selalu dibawanya. saat itu dia masih kelas 11 atau kelas 2 SMA di sekolah dan aku masih kelas 1 SMA. selain dia aktif di paduan suara dan ekstrakulikuler musik, karena keahliannya memainkan berbagai alat  musik, kak denny juga adalah seorang ketua osis di sekolahku. aku tidak berani menyatakan cinta kepadanya, karena aku tahu aku tidak pantas untuknya. banyak sekali wanita di sekolah ku yang suka dengan kak denny, dan mereka lebih cantik, lebih seksi, dan lebih pantas dengan Denny tidak seperti ku, yang tidak cantik, tidak menarik, dan yang jelas penyakitan.

aku pun menyadari banyak kekurangan ku sehingga aku memutuskan hanya untuk menjadi penggemar rahasia kak Denny. disaat dia sedang dalam kesulitan aku akan berusaha membantunya semampu aku. walaupun kami satu ekstrakulikuler (paduan suara), kami tidak pernah ngobrol, yah mungkin karena kami berbeda tempat latihan karena aku dalam paduan suara fokus dengan menyanyi, sedangkan kak Denny fokus dengan anak-anak yang berlatih alat musik.

entah kenapa hari ini tiba-tiba aku sangat merindukan Shela. aku menjadi tidak konsen dengan latian paduan suaraku hari ini. aku ingin cepat-cepat pergi untuk mengunjungi Shela. saat aku berjalan sehabis latihan aku melihat ruangan musik terbuka, mataku langsung tertuju kepada piano yang ada disana, dulu aku dan Shela sangat senang ketika disuruh latihan piano dan biola. akan tetapi setelah Shela meninggal aku sudah tidak pernah bermain piano lagi. mungkin aku akan merasa kesepian jika aku memainkan piano, karena aku selalu ditemani alunan biola dari shela ketika aku bermain piano. namun entah kenapa langkah kaki bergerak menuju piano tersebut. tanpa sadar jari-jari ku menekan tuts piano dan memainkan lagi "First Love". aku mengingat lagu ini karena lagu ini adalah lagu yang akan aku bawakan bersama Shela di lomba music setelah aku pulang dari Singapore, akan tetapi Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih sayang dengan Shela maka dari itu Shela dipanggil duluan. dan aku pun memutuskan tidak ikut lomba itu, dan tidak ingin main piano lagi.

ketika aku sudah selesai menyanyikan lagu First Love aku baru sadar ternyata ada kak Denny dari tadi, aku pun merasa sangat malu. aku pun meminta maaf karena telah memakai piano tanpa ijin. nanmun aku kaget dengan tanggapan kak Denny.
"kenapa kamu harus minta maaf? permainan kamu bagus, oh iya kamu anak paduan suara ya?" kata kak Denny.
"iya kak, saya anak paduan suara," jawabku dengan wajah sedikit aku tundukkan karena malu melihat muka kak Denny.
"oh iya nama kamu siapa, kenalin gue Denny?" tanya kak Denny lagi.
"iya kak nama aku Shilla, iya kak aku tau kakak kok, siapa sih anak sekolah ini yang gak tahu sama kakak "jawabku dengan muka merah.
"hahah ohh ya?? berarti gue terkenal ya hhaaa,"
"mungkin iya kak," jawabku sambil tersenyum.
"oh iya Shila, perrmainan piano kamu bagus, hmmm gini aku kan ditawarin sama anak teater untuk jadi  music produser di acara teater mereka, kamu bisa bantu aku gak, soalnya aku masih nyari pemain piano yang feelnya dapet kaya kamu tadi, gimana mau gak?"
"aduhh kak, tapi aku gak bisa, aku gak jago kak main piano nya, lagian aku udah lama gak main piano, kenama mesti aku kak kan banyak anak di sekolah ini yang lebih jago main pianonya dari pada aku. kakak kan anak seni musik masa dari sekian banyak anak seni musik itu gak ada yang bisa main piano?" tanyaku dengan penuh keheranan.
"memang banyak yang bisa main musik, tapi gak ada yang main musik menggunakan perasaan seperti kamu la, mereka hanya memainnkan musik tanpa adanya perasaan didalam setiap permainan mereka. dulu waktu aku SMP aku pernah bertemu seorang anak perempuan di toko buku, dia membawa biolanya sedang membawa banyak sekali buku dan dia ingin mengambil buku di rak yang agak tinggi, dia hampir mendapatkan buku tersebut namun biolanya tidak diletakan dibawah malah tetap saja ia pegang, dan biola tersebut hampir jatuh namun dia langsung melepaskan semua buku yang ia pegang untuk mengambil biola yang hampir jatuh namun tangan ia tidak sampai. aku yang berada di dekatnya dengan segera menangkap biola tersebut, dia sangat senang sekali karena biola kesayangnnya tidak jatuh. kemudian dia bercerita bahwa biola itu adalah benda kesayangnnya karena dia sangat senang bermain biola dan biola tersebut adalah pilihan dari adiknya, maka dari itu dia sangat mencintai biola dengan segenap jiwa raga. dan kamu tahu tidak yang aku kagum dari anak perempuan itu adalah dia pemain biola tapi membeli buku piano sangat banyak. aku pun merasa heran namun jawaban dia adalah karena saat ini adiknya sedang belajar bermain piano dan sangat suka bermain piano maka dari itu dia membelikan banyak buku piano agar adiknya bisa mencintai musik seperti mencintai dirinya dan menghargai musik seperti menghargai pemberian dari dia. kamu tahu gak maksud Denny," tanya kak Denny setelah lama dia bercerita dan aku mendengarkan dengan sangat seriu.
"hmmm.. iya.. jadi kak Denyy suka dengan gadis yang ketemu di toko buku itu?" jawabku dengan polos.
"ya Alloh.. bukan maksud aku gini, anak yang di toko buku itu mengajarkan aku bagaimana kita harus mencintai dengan sepenuh perasaan dan menghargai musik. dan hal itu aku liat ada di dalam diri kamu Shilla, jadi aku harap kamu mau jadi patner aku dalam teater itu,"
"aduh gimana ya kak,, nanti deh Shilla kasih kabar lagi, jadi biar Shilla pikirin dulu gimana, boleh gak kalo Shila pikirin dulu,"
"ohh.. sure.. you must thingking first, if you got an answer you must called me, "
"ohh .. of course, hmm i must to go kak, see you kak Denny,"
"see you too Shilla, take care yah.."
"iya kak,"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar